Dokumentasi asuhan keperawatan yang (mungkin) terpinggirkan

“Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban mendokumentasikan asuhan keperawatan sesuai dengan standar“

(Undang Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan)

Dear rekan sejawat, saat ini kita sudah memiliki Undang-undang yang memayungi profesi kita sebagai perawat. Selamat dan berjayalah perawat Indonesia. Tetapi di balik euphoria ini, sudah siapkah kita dengan konsekuensinya? Salah satunya dokumentasi asuhan keperawatan yang harus kita penuhi. Mau tidak mau harus diakui bahwa di lapangan, (kadang) pendokumentasian asuhan keperawatan belum terstandar dan terstruktur, bahkan belum tertulis. Artinya, ethic dan legal aspect praktik belum sepenuhnya terpenuhi, karena perawat tidak mendokumentasikan apa yang dilakukan atau mungkin tidak melakukan apa yang telah dituliskan. Dalam sebuah mini project yang saya lakukan pada bulan Juni sampai dengan Oktober tahun 2014 lalu, saya merasakan betapa pentingnya pendokumentasian asuhan keperawatan yang lengkap.

Beberapa waktu yang lalu (Juni-Oktober 2014) saya mengerjakan mini project audit tentang kepatuhan perawat dalam melaksanakan rekomendasi Keputusan Menteri Kesehatan nomor 279 tahun 2006 di sebuah Puskesmas di sebuah kota berkembang di pulau Jawa. Saya menilik pelaksanaan layanan kesehatan di rumah atau home-visit yang diberikan oleh perawat yang bekerja di Puskesmas tersebut. Saya tertarik untuk melihat bagaimana implementasi kegiatan perawat kesehatan masyarakat (perkesmas) sebagaimana yang dicantumkan dalam Kepmenkes no. 279/2006.

Saya tertarik untuk melakukan proyek ini karena dua hal. Pertama, di Puskesmas itu penanggungjawab (PJ) layanan home-visit menyatakan bahwa implementasi Kepmenkes 279/2006 sudah dilaksanakan tetapi belum memberikan dampak yang signifikan. Beliau menyatakan bahwa di wilayah kerjanya terdapat 34 keluarga binaan yang belum dapat dikatakan mandiri menurut sudut pandang keperawatan keluarga. Kedua, 15 dari 34 keluarga tersebut terdampak tuberculosis (TB). Di dalam Kepmenkes 279/2006, perawat yang bekerja di Puskesmas dapat dikategorikan sebagai perawat komunitas yang memiliki peran untuk menyediakan layanan keperawatan pada individu, keluarga, dan masyarakat setempat, baik dalam rentang sehat maupun yang berhadapan dengan penyakit strategis (akut maupun kronis), termasuk didalamnya TB. PJ layanan home visit di puskesmas tersebut meyakini bahwa kemandirian kesehatan sebagian besar keluarga terdampak TB itu belum mengalami peningkatan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam sebuah pembicaraan melalui telepon, penanggungjawab layanan home visit menyampaikan bahwa mayoritas keluarga binaan di wilayahnya tidak mampu melakukan pencegahan dan meningkatkan derajat kesehatan secara aktif. Beliau mengatakan bahwa implementasi kepmenkes 279/2006 mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beliau menegaskan bahwa kebanyakan dari keluarga binaanya tidak mampu melakukan promosi kesehatan secara aktif. Dari titik inilah kemudian saya mengajukan proposal untuk memotret bagaimana layanan home visit yang diberikan.

Sebuah proyek mini audit kemudian saya lakukan secara remote menggunakan pendekatan retrospektif. Sejumlah dokumen yang saya asumsikan dapat menggambarkan bagaimana layanan home visit dilaksanakan. Hasil analisis terhadap dokumentasi asuhan keperawatan tersebut ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Boleh dikatakan sangat sedikit dokumentasi perawat yang dapat menggambarkan bagaimana asuhan keperawatan direncanakan, dilakukan, dan dievaluasi. Meskipun beberapa keluarga binaan dinilai perawat telah mengalami kenaikan dalam kemandirian kesehatan, namun sulit bagi saya untuk mengetahui bagaimana perawat menentukan peningkatan kemandirian tersebut.

Audit saya akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk men-justifikasi perawat telah atau belum melakukan asuhan keperawatan sebagaimana yang direkomendasikan dalam Kepmenkes 279/2006.
Mungkin pengalaman saya hanya menggambarkan sedikit diantara sekian banyak fakta yang ada di layanan kesehatan di negeri ini. Juga tulisan saya dapat menggambarkan sedikit tentang pentingnya dokumentasi layanan keperawatan yang baik. Tentunya kita sebagai perawat tahu betul kontribusi dokumentasi keperawatan terhadap quality assurance layanan kesehatan. Dokumentasi yang buruk juga dapat menentukan keselamatan pasien. Namun, dokumentasi yang buruk tidak berarti para perawat yang bekerja kurang memperhatikan cara mendokumentasikan dengan baik.

Dokumentasi yang buruk dapat dimungkinkan oleh beberapa hal: kurangnya pengetahuan perawat tentang kepentingan dokumentasi keperawatan, perawat tidak menyadari pentingnya komunikasi tertulis, kurangnya waktu yang tersisa untuk mendokumentasikan asuhan keperawatan, atau karena jumlah tenaga kerja yang kurang dan tingginya beban kerja, alat pendokumentasian yang tidak efektif, dan kebijakan dan manual prosedur yang kurang jelas (Broderick & Coffey 2013; Campos 2010; Irving et al. 2006; Prideaux 2011).

Jadi kalau sudah begini, apa yang perlu diperbaiki? Tentunya banyak hal yang harus dilakukan, diantaranya upaya promosi kesehatan untuk menurunkan angka kesakitan masyarakat, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya kesehatan, dan standarisasi dokumentasi keperawatan di berbagai lahan praktik. Perlu ditekankan, mekanisme pendokumentasian juga membutuhkan pembaharuan. Tidak melulu harus modern dan terkomputerisasi, tetapi harus mudah dan efisien terhadap perawat sebagai pengguna dan efisien terhadap beban kerja dan waktu yang dialokasikan untuk perawat.

Sekian ya tulisan saya kali ini, semoga menginspirasi!

Pustaka
Broderick, MC & Coffey, A 2013, ‘Person-centred care in nursing documentation’, Int J Older People Nurs, vol. 8, no. 4, Dec, pp. 309-318.
Campos, NK 2010, ‘The legalities of nursing documentation’, Nursing, vol. 40, no. 1, p. SS7.
Irving, K, Treacy, M, Scott, A, Hyde, A, Butler, M & MacNeela, P 2006, ‘Discursive practices in the documentation of patient assessments’, Journal of Advanced Nursing, vol. 53, no. 2, pp. 151-159.
Prideaux, A 2011, ‘Issues in nursing documentation and record-keeping practice’, British Journal of Nursing, vol. 20, no. 22, pp. 1450-1454.
Undang Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan 2014, in PR Indonesia (ed.).

Iklan

Industri itu namanya Taurine!

Pagi ini (09/12/12) dalam perjalanan saya ke luar kota saya harus mengisi tangki bensin saya karena mendekati kosong. Di SPBU tempat saya mengisi bensin, saya melihat seorang Bapak yang nampaknya petugas pomp bensin tersebut sedang melahap sarapannya, nasi bungkus dan sebotol minuman ber-energi. Dalam benak saya berkata, “Ya ampun, ini saya yang salah lihat atau dia yang tidak tahu?”.

Rasa penasaran membuat saya menepi setelah mengisi bensin sambil mengeluarkan sebotol air mineral, dan meminumnya di sebelah sang bapak. Sambil meneguk, saya bertanya, “Sarapan Pak?”, “Iya, mari Mas!” jawabnya. “Wah, pakai Kr*t!ngd#eng minumnya pak?”, Tanya saya lagi. “Kalau saya tidak minum ini, bisa lemas seharian!”, katanya.

Saya jadi teringat pembicaraan saya dengan seorang teman dari sebuah sekolah tinggi keperawatan di Belanda. Menurutnya (Koen W, H), Indonesia saat ini (khususnya kota-kota besar) adalah cerminan kota-kota besar di Belanda tiga puluh tahun yang lalu. Tuntutan kerja begitu besar, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, lulusan sekolah dan sarjana, semuanya sibuk. Delapan jam sehari, tujuh hari seminggu, tiga ratus enam puluh lima hari setahun sepertinya tidak cukup untuk memenuhi target kerja sehingga hampir semua orang harus bekerja lebih dari itu.

Capek, lelah, mengantuk harusnya menjadi alarm bagi setiap orang bahwa mereka harus mengistirahatkan badan dan pikiran. Wow, most likely istirahat  is impossible nowadays! Ya, target, target, dan target. Mungkin itu yang sekarang ada di benak setiap orang yang ingin beristirahat. Di sisi lain, mungkin, adalah tekanan kerja, rendahnya pemahaman, termakan iklan dan lain-lain. Hal itu yang kemudian membuat sebagian orang menjadikan minuman berenergi untuk mem-boost tenaganya agar bugar lagi tanpa perlu memotong waktu kerjanya. Mungkin juga sebagian yang lain termakan iklan, namun sebagian yang lain, seperti saya, memutuskan beristirahat saja dengan sembahyang, teh manis hangat, atau rehat saja.

Kita sebagai professional di bidang kesehatan harus tahu bahwa stress fisik dan mental yang disikapi dengan baik (seperti olah raga, hobi, dan rekreasi) akan memberikan dampak yang positif bagi tubuh (eustress). Oleh karena itu, kedua aktivitas itu sangat disarankan karena dapat meningkatkan kapasitas tubuh. Bagaimana dengan dunia kerja? Itu adalah hal lain. Saya kira semua orang sepakat bahwa target, tantangan, hambatan dan halangan dalam dunia kerja sangat menguras tenaga dan pikiran. Seringkali hal ini disebut sebagai stress yang disikapi dengan tidak baik (distress), sehingga terasa melelahkan, membuat capek, dan bisa juga mengantuk. Sepakat?

Bagaimana dengan minuman energi? Sebelum kita bahas, saya rasa semua tahu sensasinya, semangat lagi, bertenaga lagi. Memang seperti itulah cara kerjanya. Namun sebenarnya, ada bagian dalam tubuh kita yang dipaksa untuk bekerja lebih keras. Dampaknya, setelah onset minuman tersebut hilang, badan akan luar biasa capek (exhausted) yang mungkin bagi sebagian orang sudah tidak dirasakan lagi. Dan esok hari-nya, mereka akan berpikir bahwa minuman energi adalah solusi atas capek, lelah, sekaligus untuk menjawab target kerja.

Apa sih rahasia di balik popularitas minuman energi?

Pagi ini juga, untuk mengobati rasa penasaran, di perjalanan saya kembali ke rumah, saya mampir ke sebuah swalayan. Saya menemukan sesuatu yang sama diantara merk-merk minuman energi. Lima dari enam produk minuman energi yang saya lihat, mengandung taurine 1000mg, sedangkan yang lain dengan kandungan lebih rendah (500mg). Ya, memang taurine adalah kandungan utama minuman-minuman pendongkrak energi.

Apa itu taurine?

Taurine adalah asam amino yang berperan dalam pembentukan blok protein. Asam ini ditemukan dalam jumlah banyak di otak, retina, jantung dan sel-sel darah (platelet). Sebenarnya, sumber terbaik taurine bisa kita dapatkan dari ikan dan daging.

Sebenarnya, taurine dalam dosis terkendali bermanfaat sebagai suplementasi pengobatan pada beberapa kasus penyakit. Taurine di dunia medis dipakai sebagai suplementasi pada kasus tekanan darah tinggi (hipertensi), liver (hepatitis), kolesterol, kelainan retina mata, dan cycstic fibrosis. Penggunaan lain dari taurine adalah untuk kasus lain seperti; epilepsy, ADHD/hiperaktivitas, diabetes, dan terapi alkoholisme. Manfaat positif yang lain adalah sebagai antioksidan. Namun di sisi lain, taurine juga ditengarai memperparah keadaan kasus bipolar (salah satu jenis gangguan kejiwaan). Terlebih lagi, taurine memiliki efek diuretic-membuat sering kencing, dan menurunkan kemampuan tubuh mengeliminasi lithium dari dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan efek samping yang cukup serius.

Sebenarnya, taurine diproduksi dari dalam tubuh kita. Sedangkan suplementasi taurine, pada awalnya diekstrak dari empedu kerbau. Namun, tuntutan produksi masal, sekarang taurine yang terkandung dalam minuman ber-energi adalah produk kimia sintetis. Terlebih lagi, sebenarnya diet yang baik sudah mampu menjawab kebutuhan taurine harian kita.

Beberapa penelitian membuktikan kontribusi taurine sintesis yang beragam terhadap kejadian hipertensi sampai dengan gangguan jantung. Oleh karenanya, di beberapa negara Skandinavia peredaran minuman berenergi dilarang terkait kematian beberapa konsumen.

Konsumsi taurine, semestinya sesuai dosis yang benar, antara 100-500mg/hari. Kenyataannya dalam minuman berenergi terdapat kandungan 1000mg per saji (1 botol). Alih-alih menjadi suplemen yang baik, dosis ini menjadi membahayakan bagi fungsi liver (hati), tekanan darah, dan fungsi organ tubuh lain. Terlebih lagi , konsumsi taurine berlebih akan menstimulasi kerja sistem syaraf pusat dan neurotransmitter otak secara berlebihan. Meskipun asumsi penelitian tersebut adalah anggapan bahwa tubuh benar-benar menyerap 1000mg taurine per botol, ada baiknya kita berkaca, berapa botol yangdiminum minum setiap minggu.

Wow!

Sebagai konsumen, kita kadang juga tidak membaca peringatan pada produk yang kita konsumsi. Jika kita lebih teliti, sebenarnya kita akan melihat aturan pakai pada botol minuman berenergi. Boleh percaya boleh tidak, mungkin link-link berikut dapat meyakinkan anda sebagai pembaca. Sebar-luaskan info kesehatan ini ya, untuk membantu mencerdaskan pembeli dan meningkatkan derajat kesehatan saudara-saudara kita yang perlu tahu tentang taurine!

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-1024-TAURINE.aspx?activeIngredientId=1024&activeIngredientName=TAURINE

http://www.globalhealingcenter.com/natural-health/dangers-of-taurine

Hipertensi, Stress, dan Eksistensi Perawat Komunitas


Pemeriksaan tekanan darah berkala perlu untuk 'early finding' sebagai upaya menekan prevalensi komplikasi hipertensi

Indonesia terus mambangun, berkembang, dan bergerak beriringan diantara dampak positif dan negatif perkembangan. Pergerakan dan pertumbuhan masyarakat besar-besaran terjadi di mana-mana. Modernisasi menciptakan lapangan-lapangan kerja yang menyerap banyak tenaga kerja, memunculkan banyak wirausahawan baru, dan bidang-bidang usaha baru. Di lain pihak, mau tidak mau kaum urban dan marjinal harus terus mengejar kesenjangan terutama di bidang  sosial ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Hal ini karena tuntutan hidup semakin hari semakin tinggi.

Semakin cepatnya pergerakan modernisasi menyebabkan tumpukan tuntutan hidup yang semakin ‘dikejar dead-line’. Akibatnya, meskipun sehari semalam tetap 24 jam, seminggu tetap 7 hari, dan setahun tetap 365 hari serasa tidak cukup waktu untuk mengerjakan semuanya, dan ya!, tekanan hidup dan penghidupan makin tinggi. Franchisers dan entrepreneurs mengambil peluang bisnis diantara itu dan mencoba membawa solusi alternatif yang terbukti efektif, fast food (yang sebenarnya lebih cocok disebut ‘junk food’). Lelah di kantor, berkembang paham baru instanisme; alkohol, soda, dan rokok memberikan peluang untuk sedikit melepas penat. Sayangnya, sudah banyak salah sasaran dan korban berjatuhan akibat pemahaman yang sangat jauh dari benar. Mobilisasi dan industrialisasi memperkenalkan kita pada asap knalpot dan asap industri. Yang lain? you name it!

Saya pikir, tidak ada yang tidak sepakat bahwa semua itu memojokkan kita pada situasi yang disebut stress. Secara fisik maupun mental kita pasti ter-expose oleh stressor dan pasti mengalami stress. Stressor adalah segala sesuatu yang menimbulkan respon tubuh (fisik dan psikososial) akibat menghadapi kondisi lain dari sebelumnya, atau kita kenal dengan stress. Stress sebenarnya bukan sesuatu yang mengancam, namun respon lanjutan terhadap stress-lah yang bisa saja membawa masalah, terutama kesehatan. Jika stress bisa diatasi dengan baik, dan kita mampu beradaptasi dan mengatasinya (eustress), tubuh akan meningkatkan kapasitasnya. Sebaliknya, jika tubuh dan pikiran gagal beradaptasi dan tidak dapat mengatasi stress (distress), reaksi-reaksi kita akan cenderung merusak. Bisa saja dari sekedar bad mood sampai dengan tindakan yang bahkan di luar akal sehat, dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dapat memicu berbagai penyakit degeneratif. Seperti hipertensi, yang akan kita bahas kali ini.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg, yang dapat terjadi secara herediter (genetik diturunkan) atau pun penurunan kualitas pembuluh darah akibat kehamilan, proses penuaan, endapan LDL kolesterol atau akibat merokok, dan mungkin karena peningkatan viskositas (kekentalan) darah akibat diabetes melitus. Disamping itu, kerusakan fungsi ginjal dan kelenjar adrenal, serta hati akibat penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan obat-obatan, alkoholisme, dan berbagai kondisi lain yang merusak kedua organ tersebut juga berdampak terhadap hipertensi. Penyakit ini juga  sudah menjadi salah satu trending issue di daerah-daerah ‘sibuk’ akibat tingginya distress.

Kondisi tekanan darah tinggi sebenarnya adalah tanda bahaya, bukan ancaman yang sebenarnya. Bahaya yang sesungguhnya akan muncul jika hipertensi dianggap remeh. Hipertensi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan balik pada jantung, meningkatnya ketegangan pada pembuluh darah, dan kecepatan aliran darah pada organ-organ vital yang dilaluinya-lah (dan beberapa kondisi lain) yang menjadi kondisi rentan. Hipertensi yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gagal jantung, kerusakan pada ginjal, penurunan kualitas pengelihatan sampai kebutaan, sampai dengan pecahnya pembuluh darah di otak atau stroke. Kalau sudah begini, kondisi penderita yang frustrative baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang yang hidup disekitarnya, akan menurunkan kualitas hidup mereka, bahkan sampai dapat meningkatkan resiko kematian akibat distress lain dan dan berujung pada kegagalan fungsi vital (kehidupan) penderita dan orang-orang di sekitarnya.

Hipertensi mungkin dikenali melalui gejala yang dirasakan penderitanya. Nyeri kepala dan di area tengkuk, pengelihatan kabur, nyeri pada mata, pandangan kabur, pusing, dan mual merupakan gejala yang sering muncul selain tanda pasti hipertensi yang diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah oleh tenaga kesehatan yang berkompeten. Namun, hipertensi tidak selalu disertai gejala-gejala khasnya, dan hal ini meningkatkan resiko bahaya oleh karena gejala yang tidak dirasakan oleh penderitanya. Oleh karena itu pada kelompok usia di atas 30 tahun, pria dan wanita, bermasalah dengan pekerjaan dan atau keluarga, kegemukan, perokok, alkoholis, dan (mungkin) akseptor KB hormonal sangat disarankan untuk mulai memeriksakan tekanan darahnya secara teratur ke pelayan kesehatan yang berkompeten untuk meminimalkan dampak yang dapat mengancam kesehatan, fungsi optimal fisik, sosial, dan nyawa.

Kesehatan baik fisik maupun mental sesungguhnya bukan merupakan upaya individual, namun terdapat keterikatan kuat antara individu dengan lingkungan sosial dan fisik di sekitarnya. Stress fisik yang didukung distress psikososial merupakan kombinasi yang tepat untuk memunculkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan mental,  dan yang lain. Gangguan kesehatan seseorang di masyarakat akan berdampak besar. Tidak percaya? Ambil contoh, bagaimana kalau ternyata tetangga sebelah baru saja terdiagnosa atau anda (pembaca) sendiri mengalami stroke (semoga jangan sampai). Anda tidak lagi mengetik dengan dua tangan, penampilan anda berubah, interaksi anda dengan keluarga pasti berubah, dan dengan lingkungan masyarakat juga demikian -dan mungkin, penghasilan anda juga akan terpengaruh. Akibatnya, kondisi masyarakat –baik kantor maupun lingkungan tempat tinggal- yang tadinya stabil, dengan kehadiran penderita penyakit baru, harus menyesuaikan diri kembali dengan perubahan kondisi yang terjadi pada Anda.

Perawat komunitas memiliki posisi vital untuk memperlambat progresivitas distress di masyarakat melalui pembentukan support system melalui peran dan fungsinya. Perawat komunitas, sebagai salah satu tenaga kesehatan profesional yang berhubungan langsung dengan klien dan keluarganya-dalam hal ini penderita atau resiko tinggi hipertensi, memiliki peran penting terhadap prevalensi, morbiditas dan mortalitas hipertensi. Perawat komunitas memiliki tanggung jawab terhadap derajat kesehatan komunitas dan mengimplementasikan peran dan fungsinya melalui aktifitas promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, perawat perlu berkolaborasi tidak hanya dengan tim kesehatan yang lain, namun juga dengan keluarga dan masyarakat yang hidup di sekitar penderita hipertensi. Kerja sama yang dibangun bersama-sama demi optimalisasi kualitas hidup penderita tersebut terutama tentang keteraturan minum obat, aktivitas olah raga, pemeriksaan kesehatan berkala, pengelolaan stress, dan aturan diet. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup seseorang tidak hanya berarti upaya individual, namun sebuah tim yang saling mendukung.

Sebut saja lupa, ketidakpatuhan, atau hal lain yang menyebabkan kegagalan terapi akan lebih kecil kemungkinannya jika elemen pendukung individu sudah saling berkoordinasi dengan baik. Alasan bahwa sistem pendukung ini penting untuk dikoordinasikan adalah karena hipertensi membutuhkan pengobatan berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama, memiliki pantangan terhadap kolesterol, alkohol, rokok, stress, dan membutuhkan pemeriksaan berkala serta olahraga teratur. Keuntungan yang lain atau yang disebut collateral effect-nya adalah bahwa masyarakat akan berupaya hidup sehat juga, dan berupaya mencegah kasus baru melalui dinamika-nya yang unik.

Dalam upaya membangun sistem tersebut di masyarakat, peran perawat komunitas sebagai agen pendidik mutlak diperlukan. Pemahaman yang cukup oleh masyarakat diharapkan dapat membangun awareness dan menjadi fondasi terhadap support system yang kokoh. Minimal, masyarakat perlu tahu definisi, tanda dan gejala, penyebab, penanganan, prinsip hidup penderita hipertensi, dan terutama tentang yang harus dilakukan jika mengetahui penderita ataupun terjadi komplikasi di masyarakat. Pendekatan ini mungkin berbeda dengan pendekatan kepada masyarakat ‘barat’ yang cenderung individual, karena masyarakat Indonesia yang cenderung ‘bersosialisasi’. Melalui pendidikan kesehatan yang cukup dan disertai kesadaran kesehatan dipercaya kasus-kasus dini hipertensi dapat ditemukan segera untuk dikolaborasikan bersama tim profesional kesehatan atau sejawat untuk menentukan langkah perawatan selanjutnya.

"Olah raga rutin dan dilaksanakan rutin, meskipun termasuk ke dalam stressor fisik, dipercaya dapat menurunkan stress psikologis dan membuat tubuh lebih bugar dan tidak mudah lelah."

Sebagai dampaknya, perawat komunitas dituntut untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan profesional berbasis komunitas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya mandiri, kolaboratif, health education, dan monitoring-evaluation. Bahkan lebih jauh, sebagai change agent perawat komunitas dapat mengaktualisasikan dirinya melalui beberapa mini riset yang dapat dilakukan selama menjalankan peran-peran tersebut, dan sekaligus meningkatkan pencitraan sebagai profesional yang exist di tengah-tengah masyarakat.

Dengan demikian melalui pelaksanaan peran dan fungsi perawat komunitas, support system komunitas yang baik, diharapkan stabilitas dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Tentunya peningkatan ini memerlukan kerjasama lintas disiplin dan lintas sektor yang kokoh, sehingga secara umum perawat komunitas menegaskan eksistensinya sebagai profesional yang kompeten. Lebih jauh, perawat komunitas menjadi bangian penting terhadap upaya penurunan prevalensi, morbiditas dan mortalitas penyakit degeneratif yang lain.

refference:

berbagai sumber.

Entrepreneurship: Upaya Peningkatan Daya Saing Perawat di Masa Depan

Terhitung dan tercatat pada akhir 2009 sebanyak 32 buah institusi pendidikan tinggi keperawatan yang telah di-legalisasi oleh PPNI berdiri di Jawa Timur, dan kemungkinan akan terus bertambah. Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah peningkatan kebutuhan tenaga profesional keperawatan baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Sayangnya, pertambahan yang berkesan tidak terkendali itu tidak selalu diikuti oleh quality control yang baik secara internal maupun external-stakeholder. Salah satu dampak negatif yang ditakutkan adalah bukannya kesejahteran tenaga keperawatan meningkat, akan tetapi harga yang harus dibayarkan kepada tenaga perawat akan semakin lebih jauh di bawah UMR, jenjang karir semakin berat, dan permasalahan yang lainnya. Lebih jauh, pengendalian kualitas yang rendah ataupun selektifitas rumah sakit terhadap perekrutan tenaga baru keperawatan juga akan sangat memungkinkan menurunkan tingkat kepuasan pasien dan pada titik akhirnya kehilangan sasaran dan segmen pasarnya sendiri.

Trends saat ini adalah semakin banyak penderita penyakit yang lebih memilih berobat ke Singapura, Thailand dan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara yang lain ketimbang mempercayakan perawatan kesehatannya di negeri sendiri. Survey independen menunjukkan bahwa jika saja semua penderita dari negeri ini memilih perawatan dirinya di Indonesia, maka tidak dapat dibendung kebangkrutan rumah-rumah sakit di kedua negara di atas. Sebuah pertanyaan besar yang harusnya tidak hanya menjadi “homework” penyedia jasa layanan kesehatan, akan tetapi juga pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan dan penjaminan mutu institusi pendidikan tinggi keperawatan adalah bagaimana menyedot perhatian pasien-pasien potensial tersebut.

Peningkatan kewaspadaan masyarakat, kesadaran masyarakat akan hak-haknya di muka hukum, terbukanya era pasar bebas, meningkatnya persaingan nasional dan internasional, dan peningkatan kualitas pendidikan dasar menjadi sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh dunia keperawatan. Orientasi bahwa sarjana keperawatan akan menjadi perawat yang baik seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Saat ini dunia telah mulai bergerak ke arah entrepreneurship, dimana setiap anak bangsa harus memulai menjual kreatifitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tampaknya hal tersebut akan semakin sulit direalisasikan oleh generasi keperawatan jika trends dunia tersebut tidak diikuti oleh arahan penyelenggara pendidikan keperawatan dengan baik. Satu hal yang sangat terlihat membedakan keperawatan dengan profesional kesehatan lain saat ini adalah bahwa sampai dengan saat ini keperawatan masih belum menemukan bentuk layanan pokok yang hanya dapat dilakukan dan menjadi kewenangan perawat semata. Oleh karena itu,  pengembangan entrepreneurship sejak masa pendidikan perlu ditanamkan agar kreatifitas mahasiswa keperawatan dapat tumbuh dan menjadi nilai jual dan daya saing tersendiri bagi pemiliknya kelak ketika memulai untuk terjun ke dunia kerja.

Entrepreneurship erat kaitannya dengan upaya mandiri untuk menghasilkan uang tanpa harus banyak bergantung kepada pihak-pihak tertentu. Mungkin pernyataan tersebut membuat sebagian orang berpikir tentang perdagangan. Lebih dari itu, sebenarnya entrepreneurship tidak hanya berbicara soal penjual-pembeli, namun ke arah pengembangan kreatifitas dalam membuka peluang baru untuk menciptakan lapangan kerja sendiri, menjual ide baru, mengembangkan ide-ide dan peristiwa sehari-hari, dan mengkombinasikan hal-hal biasa menjadi sesuatu yang luar biasa dan memiliki selling point and value yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Selama ini rutinitas perawat di ruangan saat pasien telah selesai diberikan tindakan dan asuhan kaperawatan, seringkali menggunakan waktu luangnya untuk menyiapkan kasa dan kapas untuk disterilisasi, menyiapkan set untuk perawatan klien harian dan hal-hal minor yang lain. Boleh menjadi bayangan bagaimana jika contoh tersebut dikelola sehingga bernilai jual. Contoh lainnya, saat ini penderita penyakit kronis mengalami peningkatan dari segi kuantitas. Tentunya kondisi ini sedikit-banyak jika dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama akan menurunkan kualitas manajemen rumah sakit dan cost inefective. Jika peluang itu dapat ditangkap, maka seharusnya perawat mampu meningkatkan peranannya di rumah sakit.

Tidak butuh pemikiran yang berat, hanya butuh pemikiran ringan untuk memulai yang besar. Jiwa kewirausahaan sudah ada dalam setiap diri perawat di manapun. Hanya saja selama ini mereka belum dapat membaca peluang yang ada. Jasa yang sebenarnya selalu diupayakan untuk remunerasi-pun sebetulnya dapat menjadi modal pokok perawat untuk mengembangkan diri dan menurunkan tingkat ketergantungan terhadap gaji/honor yang diberikan institusi tempat mereka bekerja.

Semoga menjadikan inspirasi bagi perawat di manapun berada.

Salam Sehat untuk Perawat Indonesia!

Teh dan Diare

Secangkir Teh berkhasiat banyak

Secangkir Teh berkhasiat banyak

Teh yang dikonsumsi masyarakat Indonesia dengan sajian yang “aneh” bagi mereka yang terbiasa dengan cangkir dan poci, ternyata sudah mencapai angka 0,8 kg perkapita per tahun!! (wikipedia).Angka ini tergolong kecil seh bagi yang belum tahu, tapi bayangin aja yang ternyata tiap sajian ga sampe 0,3 mg. bagi orang Indonesia yang pernah mengalami masalah diare, hampir dapat dipastikan oleh kepluarga mereka ditolong yang pertama kali dengan terh kental tanpa gula. Tapi apakah ada kaitannya diare dengan teh?

Diare, orang kesehatan bilang sebagai kejadian yang nimpa manusia ampe berak 3-4kali sehari dengan bentuk tinja yang encer sebagai akibat dari pengaruh dari Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa), Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia, Kurang gizi, Alergi, dan Immuno defesiensi.(infeksi.com) Sebenarnya penanganannya adalah dengan mengganti cairan yang hilang atau rehidrasi dengan air gula dan garam atau oralit yang sekarang banyak diproduksi misalnya, pocari sweat dan minuman sejenisnya. dalam kasus yang gawat biasanya bisa juga menimbulkan penderitanya mati kekurangan cairan tubuh.

Terus kaitannya dengan teh? Mari kita simak yang lewat berikut ini sebelum kita bahas y…
Negeri Cina dipercayai sebagai tempat kelahiran tanaman Teh. Kisah yang paling banyak diikuti tentang asal usul Teh, adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum masehi. Kaisar Shen Nung juga disebut sebagai Bapak Tanaman Obat-Obatan Tradisional Cina saat itu. Konon
kabarnya, pada suatu hari ketika sang Kaisar sedang bekerja di salah satu sudut kebunnya, terlebih dahulu ia merebus air dikuali di bawah rindangan pohon. Secara kebetulan, angin bertiup cukup keras dan menggugurkan beberapa helai daun pohon tersebut dan jatuh kedalam rebusan air dan terseduh. Sewaktu sang Kaisar meminum air rebusan tersebut, ia merasa bahwa air yang diminumnya lebih sedap daripada air putih biasa, dan menjadikan badan lebih segar.
Daun yang terseduh kedalam rebusan air sang Kaisar adalah daun Teh. Dan sejak saat itu teh mulai dikenal dan disebarluaskan.
Kita balik ke diare lagi….

diarrheaTernyata di dalam setiap kita minum teh, tanpa sengaja kita sudah mengkinsumsi antioksidan yang bernama katekin, artinya bikin kulit kencang, ga gampang keriput dan ga mudah sakit. Pada daun teh segar, kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Selain itu, juga teh mengandung teofilin (bahan aktif pada asthmasoho, yang mampu memnyembuhkan sesak napas), teobromin, dan kafein yang ada pada kopi yang merangsang kerja otak dan membuat tubuh terasa segar. Selain itu, peneliti Dr. Gail Sonenshein, mengatakan bahwa teh sama sekali tidak mempunyai efek samping yang merugikan. Karena itu, orang tidak perlu takut mengkonsumsi tiga hingga lima cangkir teh per hari. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Cellular Biochemistry edisi Juli 2001, teh mengandung polifenol dalam jumlah besar. Kandungan senyawa polifenol yang sangat banyak dalam teh tersebut berperan sebagai pelindung terhadap kanker. Polifenol tergolong dalam antioksidan yang sangat ampuh. Senyawa ini akan menetralkan radikal bebas yang menjadi penyebab kanker.Di dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Prof. Dr. Sumarno Poerwo Soedarno, ketika menjabat staf ahli Menteri Kesehatan bidang teknologi kesehatan menyatakan kebiasaan minum teh dapat menurunkan angka serangan diare. Di dalam buku Shennong Bencao, Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat dinetralisir oleh teh. Dengan kemampuan antibakterinya, teh membantu menghambat infeksi tenggorokan. Penelitian juga menunjukkan, meminum teh memperbaiki konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Kandungan lain yang ada di dalam teh adalah Asam tanat atau lebih dikenal dengan tanin yang juga terdapat pada daun dan buah jambu biji(Psidisium Guajava). Asam ini ternyata jika berinteraksi dengan makanan yang mengandung zat besi akan membentuk asam lain yang disebut sebagai Asam Tanin ferous oksidase yang menyebabkan usus halus tidak mampu menyerap zat-zat gizi makanan. Makanya bagi kalian yang kurang gizi, jangan minum teh setelah atau selama makan!! Pengaruh tanin ferous oksidase ini pada usus besar, tempat penampungan feses sebelum dibuang menyebabkan peristaltik usus justru meningkat (maaf revisi-2011), maka teh juga dapat membantu melancarkan buang air (untuk yang berminat). Untuk yang sedang diare, petuah2 tua itu bisa dipertimbangkan kembali (red; 2011). I'm in a diarrhea

I’m in a diarrhea