Entrepreneurship: Upaya Peningkatan Daya Saing Perawat di Masa Depan

Terhitung dan tercatat pada akhir 2009 sebanyak 32 buah institusi pendidikan tinggi keperawatan yang telah di-legalisasi oleh PPNI berdiri di Jawa Timur, dan kemungkinan akan terus bertambah. Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah peningkatan kebutuhan tenaga profesional keperawatan baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Sayangnya, pertambahan yang berkesan tidak terkendali itu tidak selalu diikuti oleh quality control yang baik secara internal maupun external-stakeholder. Salah satu dampak negatif yang ditakutkan adalah bukannya kesejahteran tenaga keperawatan meningkat, akan tetapi harga yang harus dibayarkan kepada tenaga perawat akan semakin lebih jauh di bawah UMR, jenjang karir semakin berat, dan permasalahan yang lainnya. Lebih jauh, pengendalian kualitas yang rendah ataupun selektifitas rumah sakit terhadap perekrutan tenaga baru keperawatan juga akan sangat memungkinkan menurunkan tingkat kepuasan pasien dan pada titik akhirnya kehilangan sasaran dan segmen pasarnya sendiri.

Trends saat ini adalah semakin banyak penderita penyakit yang lebih memilih berobat ke Singapura, Thailand dan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara yang lain ketimbang mempercayakan perawatan kesehatannya di negeri sendiri. Survey independen menunjukkan bahwa jika saja semua penderita dari negeri ini memilih perawatan dirinya di Indonesia, maka tidak dapat dibendung kebangkrutan rumah-rumah sakit di kedua negara di atas. Sebuah pertanyaan besar yang harusnya tidak hanya menjadi “homework” penyedia jasa layanan kesehatan, akan tetapi juga pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan dan penjaminan mutu institusi pendidikan tinggi keperawatan adalah bagaimana menyedot perhatian pasien-pasien potensial tersebut.

Peningkatan kewaspadaan masyarakat, kesadaran masyarakat akan hak-haknya di muka hukum, terbukanya era pasar bebas, meningkatnya persaingan nasional dan internasional, dan peningkatan kualitas pendidikan dasar menjadi sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh dunia keperawatan. Orientasi bahwa sarjana keperawatan akan menjadi perawat yang baik seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Saat ini dunia telah mulai bergerak ke arah entrepreneurship, dimana setiap anak bangsa harus memulai menjual kreatifitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tampaknya hal tersebut akan semakin sulit direalisasikan oleh generasi keperawatan jika trends dunia tersebut tidak diikuti oleh arahan penyelenggara pendidikan keperawatan dengan baik. Satu hal yang sangat terlihat membedakan keperawatan dengan profesional kesehatan lain saat ini adalah bahwa sampai dengan saat ini keperawatan masih belum menemukan bentuk layanan pokok yang hanya dapat dilakukan dan menjadi kewenangan perawat semata. Oleh karena itu,  pengembangan entrepreneurship sejak masa pendidikan perlu ditanamkan agar kreatifitas mahasiswa keperawatan dapat tumbuh dan menjadi nilai jual dan daya saing tersendiri bagi pemiliknya kelak ketika memulai untuk terjun ke dunia kerja.

Entrepreneurship erat kaitannya dengan upaya mandiri untuk menghasilkan uang tanpa harus banyak bergantung kepada pihak-pihak tertentu. Mungkin pernyataan tersebut membuat sebagian orang berpikir tentang perdagangan. Lebih dari itu, sebenarnya entrepreneurship tidak hanya berbicara soal penjual-pembeli, namun ke arah pengembangan kreatifitas dalam membuka peluang baru untuk menciptakan lapangan kerja sendiri, menjual ide baru, mengembangkan ide-ide dan peristiwa sehari-hari, dan mengkombinasikan hal-hal biasa menjadi sesuatu yang luar biasa dan memiliki selling point and value yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Selama ini rutinitas perawat di ruangan saat pasien telah selesai diberikan tindakan dan asuhan kaperawatan, seringkali menggunakan waktu luangnya untuk menyiapkan kasa dan kapas untuk disterilisasi, menyiapkan set untuk perawatan klien harian dan hal-hal minor yang lain. Boleh menjadi bayangan bagaimana jika contoh tersebut dikelola sehingga bernilai jual. Contoh lainnya, saat ini penderita penyakit kronis mengalami peningkatan dari segi kuantitas. Tentunya kondisi ini sedikit-banyak jika dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama akan menurunkan kualitas manajemen rumah sakit dan cost inefective. Jika peluang itu dapat ditangkap, maka seharusnya perawat mampu meningkatkan peranannya di rumah sakit.

Tidak butuh pemikiran yang berat, hanya butuh pemikiran ringan untuk memulai yang besar. Jiwa kewirausahaan sudah ada dalam setiap diri perawat di manapun. Hanya saja selama ini mereka belum dapat membaca peluang yang ada. Jasa yang sebenarnya selalu diupayakan untuk remunerasi-pun sebetulnya dapat menjadi modal pokok perawat untuk mengembangkan diri dan menurunkan tingkat ketergantungan terhadap gaji/honor yang diberikan institusi tempat mereka bekerja.

Semoga menjadikan inspirasi bagi perawat di manapun berada.

Salam Sehat untuk Perawat Indonesia!

Iklan

One comment on “Entrepreneurship: Upaya Peningkatan Daya Saing Perawat di Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s