Narkoba dalam Keluarga: You Can Be A Hero Too!

Pills

Pills

Tidak perlu menunggu orang lain bertindak untuk menolong keluarga Anda sendiri, karena kehadiran anda akan lebih berarti baginya. Karena Anda adalah sumber motivator dan orientasi baginya untuk hidup lebih baik. Tidak perlu juga Anda menunggu sampai masuk panti rehabilitasi karena sudah susah disembuhkan dan luar biasa mahal, jangan menunggu sampai ia overdosis dan meregang nyawa di rumah sakit atau berakhir di penjara karena tak ada yang mengarahkannya menjadi lebih baik. Anda bisa menjadi pahlawan bagi keluarga anda sendiri! Setidaknya hal ini harus kita yakini sebagai anggota keluarga yang memperhatikan satu sama lain.
Fenomena yang berkembang sampai saat ini adalah maraknya penggunaan narkoba yang mulai tidak mengenal rentang usia pemakainya, meski ranking pertama pemakainya masih disandang oleh kalangan remaja usia antara 13 sampai 25 tahun. Tetapi mestinya hal ini tidak menyurutkan kewaspadaan kita terhdap narkoba. Berita terakhir yang dilansir oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) mengabarkan bahwa ‘kaum’ pengedar “benda haram” ini sudah mulai mengincar peluang pasar anak Sekolah Dasar(SD)!
Bagi anak yang memasuki masa remaja- antara 13 sampai dengan 21 tahun- adalah masa pencarian jati diri dan merupakan masa puncak kualitas dan kuantitas hubungan sosial dengan sebayanya, bahkan dalam masa ini hubungan dengan sebaya menempati prioritas utama dalam kehidupan mereka(BNN). Perkembangan psikosoial inilah yang kemudian menjadi akses utama penyebaran Narkoba di kalangan remaja. Berhubungan dengan teman sebaya yang menggunakan obat-obatan memiliki kecenderungan yang besar juga menggunakan obat-obatan. Tekanan negatif dari teman sebaya dapat meningkatkan resiko penyalahgunaan narkotika.
Narkoba sendiri adalah akronim dari Narkotika dan Obat Adiktif lain atau obat lain yang menyebabkan kecanduan. Dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang RI No. 22 tahun 1997 yang dimaksud dengan Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Dijelaskan dalam UU tersebut bahwa yang termasuk narkotika adalah: opioid, kokain, Ganja termasuk di dalamnya baham alami, sintetik dan semi sintetik, derivat dan garam-garamnya. Sedangkan secara medik- menurut Rudi Maslim,dr., SpKJ(2003), yang disebut narkotik hanya golongan opioid saja(morfin, petidin, kodein dan papaverin).Barangkali yang dapat ditambahkan di sini adalah juga istilah zat psikotropika yang didefinisikan oleh WHO pada tahun 1971 sama dengan zat psikoaktif-zat yang mempengaruhi kerja/ aktivikas mental dan perilaku, termasuk di dalamnya adalah; alkohol, opioid/ opium dan garam-garam turunannya, kanabioid/ganja dan turunan beserta garam-garamnya, sedativa dan hipnotika/penurun kesadaran, kokain, stimulansia, halusinogenika, tembakau dan zat psikoaktif lainnya(Maslim, 2003:3).

IDU

IDU

Beragam faktor yang kemudian muncul mengapa mereka menggunakan Narkoba. Menurut penelitian Ratna Pasaribu yang dikutip oleh Siamsidar(2006), 73 persen responden menyatakan bahwa awal mereka jatuh dalam jerat narkoba adalah karena coba-coba dan 21 persen karena tekanan lingkungan sosial dan pengaruh teman pergaulan. Harusnya hal ini bisa dicegah khan!? Mengenai sejak kapan mereka awalnya menggunakan Narkoba, 48 persen atau hampir dari setengah dari responden menyatakan antara 10-15 tahun atau masa-masa SD dan SMP. Data akhir oktober 2000 dari DinKes DKI Jakarta, kasus baru HIV/AIDS sebanyak 86,95 persen merupakan ‘sumbangsih’ dari pemakai narkoba khususnya jenis Narkoba suntik (Injection Drug User) . Hal ini terjadi oleh karena adanya kalangan pemakai narkoba suntik yang memakai jarum suntik bekas atau menggunakannya bersama-sama, oleh karena memang tidak mudah mendapatkan jarum suntik-peredarannya juga diatur hanya untuk kepentingan medis. Bayangkan saja ternyata menurut data BNN terjadi hampir 15.000 kasus kematian remaja pecandu narkoba per tahun dengan berbagai sebab; tentu saja angka ini hanya angka yang tercover oleh lembaga resmi pemerintah. Kenyataannya bisa saja lebih karena masih lebih banyak lagi di luar sana yang tidak terdata oleh pemerintah. Satu contoh, bila ada kematian pecandu keluarga akan merasa malu dan melaporkan kematian anggota keluarga mereka ke kelurahan sebagai kasus penyakit paru atau yang lain daripada melaporkan karena narkoba,khan!?
Sebenarnya tidak hanya narkoba yang berbahaya bagi tubuh kita, marilah kita sepakati bahwa sebenarnya semua bentuk obat akan dianggap racun oleh tubuh kita (Zaman-Joenoes,2004). Nyatanya memang demikian, karena dalam setiap obat pelan tetapi pasti, langsung atau pun tak langsung setiap obat memiliki efek samping dan perhatian khusus. Oleh karena itu hendaknya kita perlu menjadi bijak dalam menggunakan obat apapun.
Mungkin kita sepakat bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Tetapi hal ini sebaiknya tidak membuat Anda paranoid atau curiga dengan lingkungan disekitar Anda. Cari informasi tentang jenis, dan penggunaan narkoba melalui cara yang benar. Dua, Kenali diri anda sendiri dahulu, perbaiki sikap hidup dan konsep diri anda. Kembangkan citra diri positif, miliki tujuan hidup dan percaya diri tinggi, karena ternyata seseorang yang memiliki kepribadian yang rendah akan lebih rentan terjerat dalam narkoba. Katakan TIDAK! pada narkoba. Ketiga,perbaiki komunikasi dalam keluarga. Sebagai orang tua hendaknya memberikan edukasi yang tepat sesuai usia anak tentang bahaya narkotika. Ajak berinteraksi dan ciptakan suasanya yang nyaman, hingga tercipta Baiti Jannati dalam rumah. Nampaknya tidak ada lain saat ini yang lebih tepat daripada pembangunan Iman dan Taqwa pada anak sejak dini.

We are happy without drugs

We are happy without drugs

Iklan

Rosela, Khasiat dan Pemanfaatannya

The Red Tea

The Red Tea

Rosela atau Hisbiscus sabdariffa, adalah spesies bunga yang berasal dari benua Afrika. Mulanya bunga yang juga cantik untuk dijadikan penghias halaman rumah itu diseduh sebagai minuman hangat di musim dingin dan minuman dingin di musim panas. Di negeri asalnya, Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosela, sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Ada kalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula. Di Mesir, rosela diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin. Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu. Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk. Tak jarang, rosela juga dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung. Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.

A. Khasiat

“Menurunkan asam urat, Hipertensi, Diabetes Mellitus, memperbaiki metabolisme tubuh, melangsingkan Tubuh, menghambat sel kanker, mencegah sariawan dan panas dalam, menambah vitalitas, meredakan batuk, mencegah flu, antioksidan, antihipertensi, antikanker, anti depresi, antibiotik, aprodisiak, diuretik (peluruh kencing), sedatif, tonik, dan menurunkan absorpsi alkohol.”Kelopak Bunga Rosela

Pemanfaatan kelopak bunga Rosela sudah dikenal dan diteliti baik oleh pakar kesehatan modern maupun pakar kesehatan tradisional di berbagai negara di dunia. Kelopak bunga tersebut diketahui mengandung zat-zat penting yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin C, vitamin A, protein esensial, kalsium, dan 18 jenis asam amino, termasuk arginin dan legnin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh.

Secara tradisional, ekstrak kelopak rosela berkhasiat sebagai antibiotik, aprodisiak (meningkatkan gairah seksual), diuretik (melancarkan buang air kecil), pelarut, sedativ (penenang), dan tonik. Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan Chung San Medical University di Taiwan, Chau-Jong Wang, konsumsi rosela digunakan sebagai salah satu cara baru untuk mengurangi risiko penyakit jantung. Flora ini terbukti secara klinis mampu mengurangi jumlah plak yang menempel pada dinding pembuluh darah. Tidak hanya itu, rosela juga memiliki potensi untuk mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL) dan lemak dalam tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa rosela juga bermanfaat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), membantu program diet bagi penderita kegemukan (obesitas), melancarkan peredaran darah, menurunkan demam umum, melancarkan dahak bagi batuk berdahak, dan dapat dimanfaatkan untuk melancarkan buang air besar.

Ditinjau menurut sudut pandang medis modern (kedokteran), mengkonsumsi olahan kelopak bunga rosela secara teratur menunjukkan kesetaraan hasil dengan pengobatan modern (farmakologis) pada beberapa penyakit berikut ini:
a. Hipertensi
Pemberian ekstrak kelopak rosela yang mengandung 9,6 miligram anthocyanin setiap hari selama 4 minggu, mampu menurunkan tekanan darah yang hampir sama dengan pemberian captopril 50 mg/hari. Rosela terstandar tersebut dibuat dari 10 gram kelopak kering dan 0,52 liter air (Herrera-Arellano, 2004). Terdapat penurunan tekanan darah sistolik sebesar 11,2 % dan tekanan diastolik sebesar 10,7% setelah diberi terapi teh rosela selama 12 hari pada 31 penderita hipertensi sedang (Haji Faraji, 1999).
b. Asam Urat dan Kesehatan Ginjal
Tingginya kadar asam urat, kalsium dan natrium dalam darah secara mekanisme normal tubuh akan dikurangi dengan membuang kelebihan unsur tersebut melalui ginjal. Jika kondisi demikian dibiarkan berlangsung lama akan memberatkan kerja ginjal sebagai penyaring darah dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu kesakitan pada ginjal. Dengan mengkonsumsi rosela, ditemukan penurunan kreatinin, asam urat, sitrat, tartrat, kalsium, natrium, dan fosfat dalam urin pada 36 pria yang mengkonsumsi jus rosela sebanyak 16-24 g/dl/hari (Kirdpon, 1994).

Lebih jauh, rosela diketahui memiliki kandungan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan sebanyak 23,10 mg dalam setiap gram bobot kering kelopak rosela. Sejumlah antioksidan yang dikandung rosela tersebut memiliki aktivitas 4 kali lebih tinggi dibanding bubuk kumis kucing. Penelitian yang dilakukan oleh Ir Didah Nur Faridah MSi, periset Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, menunjukkan bahwa kandungan antioksidan yang dimiliki oleh kelopak rosela terdiri atas senyawa gossipetin, antosianin, dan glukosida hibiscin yang mampu memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit degeneratif (akibat proses penuaan) seperti jantung koroner, kanker, diabetes melitus, dan katarak.

Peneliti Faculty of Agriculture, Kagoshima University, De-Xing Hou menemukan adanya kandungan delphinidin 3-sambubioside dan cyanidin 3-sambubioside, antosianin pada rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukeimia. Cara kerjanya adalah dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondrial dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol. Jika molekul mengandung elektron seperti guanin DNA terserang, kesalahan replikasi DNA mudah terjadi. Kerusakan DNA memicu oksidasi LDL, kolesterol, dan lipid yang berujung pada penyakit ganas seperti kanker dan jantung koroner. Namun, antioksidan yang dikandung rosela meredam aksi radikal bebas yang menyerang molekul tubuh yang mengandung elektron. Secara singkat, adanya mekanisme tersebut menjelaskan bagaimana antioksidan yang terdapat dalam kelopak rosela menghambat pertumbuhan sel kanker dan kejadian penyakit jantung koroner.

Selain hal-hal yang dikemukakan di atas, rosela juga terbukti dapat menurunkan kadar trigliserida dan LDL-kolesterol dalam darah. Penelitian terhadap efek kerabat bunga sepatu itu terhadap kegemukan juga dilakukan oleh Sayago-Ayerdi SG dari Department of Nutrition, Universidad Complutense de Madrid, Spanyol. Menurut Sayago rosela mengandung 33,9% serat larut yang membantu meluruhkan lemak. Kendati demikian,kadar keasaman (pH) seduhan rosela mencapai 3,14 sehingga perlu diwaspadai reaksi lambung untuk pengidap maag, karena kemungkinan memiliki efek merugikan.
B. Pengolahan dan Pemanfaatan
Pemanfaatan Rosela sebagai Minuman KesehatanKesalahan dalam pengolahan dan penyimpanan akan berpengaruh terhadap efektifitas kandungan zat dalam rosela. Tentu saja hal tersebut mampu menurunkan kemanfaatan terhadap tubuh dan efek dari mengkonsumsi rosela seperti yang kita harapkan tidak muncul. Kerusakan yang berdampak pada hilangnya manfaat kandungan zat aktif dalam rosela sebenarnya sangat mudah untuk dikenali. Rosela yang telah hilang kemanfaatannya dikenali melalui warna dari seduhan kelopak rosela. Tidak adanya warna merah anggur khas rosela dalam seduhannya menunjukkan antosianin (zat aktif dalam rosela, red.) telah terdegradasi dan khasiatnya pun sudah tidak ada lagi. Hal ini terjadi pada hasil olahan rosela yang berbentuk sirup dalam botol kaca bening yang terkena sinar matahari langsung.
Untuk mendapatkan khasiat terbaik dalam kelopak rosela sebenarnya tidak sulit. Untuk mendapatkan ter rosela, bunga yang sudah dipetik, dijemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari agar memudahkan pemisahan lidah kelopak dengan bijinya. Kemudian cuci air bersih dan jemur kembali selama 3-5 hari. Remas kelopaknya, jika mudah menjadi bubuk artinya kadar air telah mencapai 4-5%. Seduh 2-3 g teh rosela dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan. Untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung. Atau setelah dipisahkan dari bijinya, bunga segar rosela yang telah dicuci dapat langsung diseduh dengan air panas.
Di Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosela. Rosela juga bisa dibuat salad buah yang dimakan mentah. Dapat juga dikonsumsi dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula. Kerap bisap-sebutan rosela di Senegal-disuguhkan sebagai minuman tradisional saat natal. Caranya, kelopak rosela dicampur irisan jahe dan gula lalu ditaruh pada teko tembikar. Setelah itu dididihkan dan diamkan semalam. Disajikan dengan menambahkan es dan rum, ‘Jus’ itu berasa, beraroma, dan berwarna mirip minuman anggur.

PONARI SANG PENYEMBUH

PONARI SI ANAK AJAIB, SANG FENOMENA
Sebuah Pendekatan Kesehatan “Psikoneuroimmunologis” yang Masuk Akal

PONARI MAN!!!Ribuan penderita yang telah mendapatkan ‘pengobatan’ dari si dukun cilik dari Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur menyatakan dirinya mengalami perbaikan kesehatan. Namun juga tidak sedikit yang memburuk keadaannya sehingga memaksa mereka untuk kembali mempercayai rumah-rumah sakit dan dokter untuk menangani masalah kesehatan mereka, juga tidak sedikit diantaranya meninggal dunia. Mereka yang memilih berobat ke dukun cilik itu datang dengan beragam alasan, yang merujuk pada sebuah kesamaan persepsi yang telah menjadi sebuah sugesti; yakni mereka percaya bahwa dengan meminum air celupan batu Ponari dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang mereka derita, ataupun yang diderita oleh sanak saudaranya.
Batu yang dikultuskan itu, sepertinya telah disalahmaknakan oleh sebagian orang sehingga berpotensi menjadi dewa baru dalam dunia pengobatan modern. Pemahaman demikian sungguh mengenaskan, dan menunjukkan bagaimana sebenarnya kualitas SDM anak-anak bangsa ini. Sungguh disayangkan, jika kemudian pengkultusan batu tersebut dilatarbelakangi oleh semakin tidak terjangkaunya biaya pengobatan dan pemeliharaan kesehatan, sementara di lain pihak telah dijabarkan bahwa ada sebuah wadah baru bernama Jaring Pengaman Kesehatan Masyarakat atau JPKM yang bersedia membiayai pengobatan dan perawatan kesehatan di rumah bagi masyarakat yang tidak mampu. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana mekanisme air ajaib Ponari menjadi berkhasiat dan menyembuhkan.
Konsep pertama yang perlu diketahui adalah tentang bagaimana air tersebut diperlakukan. Dr. Masaru Emoto, seorang peneliti asal Jepang, dalam bukunya “The Hidden Messages in Water” menjelaskan sebuah mekanisme air mempengaruhi kesehatan tubuh. Beliau menyatakan bahwa pikiran dan perasaan akan sangat berdampak pada bentuk fisik dari air. Dengan mengekspresikan perasaan dan pemikiran melalui kata-kata dan tulisan, ataupun melalui rangsang musik akan mampu merubah molekul air menjadi sesuai apa yang kita ekspresikan, sebagaimana gambar disamping yang merupakan sampel air yang diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan kata-kata bijak akan menunjukkan perubahan bentuk fisik dari molekul dasar air dari bentuk acak menjadi bentuk heksagonal yang seragam.
love-and-gratitude
Sedangkan air yang diperlakukan dengan kata-kata kasar dan sifatnya mengejek, bentuk molekulnya menjadi sangat tidak beraturan, seperti pada gambar berikut:

you-make-me-sick

gambar molekul air yang diberi kata-kata “you make me sick”.

Tampaknya, hal ini juga terjadi pada air celupan batu milik Ponari. Menurut hasil penelitian molekuler terakhir, terdapat perbedaan yang signifikan pada molekul sampel air antara sebelum dengan sesudah dicelupi batu milik Ponari. Di bawah mikroskop elektron, dengan pembesaran hingga 2juta kali menunjukkan bahwa pada air yang telah dicelupi batu ajaib tersebut memiliki konstruksi molekul prisma bercakram. Tetapi hingga saat tulisan ini dibuat belum ada literatur yang menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi, dan bagaimana kemanfaatanataupun mungkin bahaya apa yang bersembunyi di balik perubahan molekul itu. Kemungkinan yang dapat disimpulkan pada air Ponari adalah bahwa kepercayaan seseorang yang membawa air untuk dicelupi batu tersebut telah merubah molekul air tersebut bahkan sebelum batu dicelupkan.

Konsep kedua yang perlu kita perhatikan dari dunia kedokteran adalah mekanisme HPA-axis, atau Hipothalamic-Pituitary-Adrenal-axis. Sebelum lebih lanjut, mari kita sepakati bahwa para penderita yang datang ke tempat praktik Ponari sebagian besar adalah penderita penyakit kronis yang bertahun-tahun tidak kunjung sembuh melalui pengobatan kedokteran. Menderita dari sebuah penyakit menahun menyebabkan terjadinya stres berkepanjangan dan potensi keputusasaan. HPA axis adalah sistem neuroendokrin (syaraf-hormon) tubuh yang melibatkan hypothalamus (bagian dari otak kecil, red.), kelenjar hormon pituitary, dan kelenjar adrenal (kelenjar yang terletak melekat pada bagian atas ginjal). Sistem komunikasi kompleks ini bertanggungjawab untuk menangani reaksi stress dengan mengatur produksi kortisol, sejenis hormon dan merupakan mediator rangsang syaraf. HPA-axis dalam konsep psikoneuroimmunologi menjelaskan mekanisme sebuah keyakinan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan tubuh seseorang. HPA-axis merupakan sebuah jalur kompleks interaksi antara tiga sistem yang terjadi dalam tubuh yang mengatur reaksi terhadap stress dan banyak proses dalam tubuh, termasuk didalamnya proses pencernaan, sistem ketahanan tubuh, mood dan tingkat emosi, gairah seksual, penyimpanan energi dan penggunaannya.hpa
Keadaan stress secara psikologis akan merangsang penurunan produksi hormon beta endorphin yang meningkatkan tingkat ambang rangsang. Stress juga memicu ketidakteraturan produksi hormon kortisol sehingga hipotalamus meningkatkan produksi CRH atau hormon kortikotropin yang pada akhirnya menyebabkan kelemahan, dan penurunan daya tahan tubuh. Jika terjadi stress pada penderita penyakit menahun akan menyebabkan ia jatuh pada kondisi yang lebih buruk. Sebuah benang merah yang menghubungkan antara konsep ini dengan ‘penyembuhan’ ala Ponari adalah adanya kesamaan mekanisme yang terjadi pada penderita yang dapat disembuhkan oleh si dukun cilik tersebut. Para penderita yang putus asa dengan keadaannya yang tidak kunjung berubah telah mengacaukan hormonal tubuh sehingga keadaan makin memburuk. Kehadiran Ponari serasa angin segar yang menerpa wajah mereka, dan merupakan harapan baru yang menjadi alternatif kedua dalam penyembuhan mereka. Persepsi inilah yang kemudian secara tidak disadari telah mengembalikan jalannya sistem HPA-axis tubuh sehingga beberapa diantara mereka mengalami perbaikan tubuh.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana penjelasan tentang mereka yang malah makin parah? Perlu diketahui bahwa, dalam pendekatan HPA –axis melibatkan daya tahan tubuh dan proses pemulihan kesehatan, terkandung di dalamnya bagaimana energi tubuh berpengaruh. Dengan meningkatnya daya tahan tubuh seseorang, diharapkan sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit mampu mengeliminasi kehadiran penyakit yang menjangkiti. Sehat dan sakitnya sesorang bergantung pada sistem ketahanan tubuh atau immunitas, jumlah virus atau bakteri atau kerusakan tubuh yang terjadi, tingkat kemampuan agens penyakit untuk merusak, dan seberapa parah kerusakan dalam tubuh yang terjadi. Sehingga, proses penyembuhan dari penyakit setiap individu akan berbeda bergantung pada kepercayaan, budaya yang dianut, serta tingkat stress psikologis yang dialaminya. Penjelasan yang lebih jauh, penderita yang memburuk, dan meninggal dunia dapat dijelaskan melalui penelitian terakhir yang menunjukkan adanya kadar bakteri dalam air yang melebihi ambang batas aman untuk dikonsumsi. Hal ini sangat beralasan, karena Ponari sebelumnya tidak menjaga kebersihan tangan, dan batunya. Sementara kemungkinan lain adalah, air yang dibawa untuk dicelupi adalah air mentah atau bahkan comberan. Sungguh sangat benar langkah Ponari menutup praktiknya terhitung tanggal 25 Februari 2009 kemarin, sebelum komplain massal terjadi karena dia jorok terhadap tangan dan batunya sendiri. Tentunya, sebelum dia kena “batu”nya.Selamat menganalisa pernyataan saya lebih jauh.

“Sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi mereka yang berpikir”- The Holy Quran.